cerpen IMPIAN MENJADI HAFIDZ QUR'AN
Bismillahirrahmanirrahim
MY LIFE IS MY ADVENTURE
Dalam kisah ini aku ingin
menceritakan seseorang yang gigih dan sabar dalam menjalani kehidupannya dalam
pengembaraannya menuntut ilmu untuk menggapai impiannya”HAFIDZ QUR’AN’’.
Kisah pun bermulai…
Perkenalkan namaku abdul waris
aku mempunyai impian yang mulia ingin menjadi seorang hafidz Qur’an sejak usiaku
menginjak 18 tahun ,ketika kelulusanku disekolah menengah atas dipondok
pesantren aku bertekad menjadi seorang pengusaha atau enterpreuner sejati
sebelum aku mengubahnya menjadi hafidz Qur’an seperti sekarang ini,sebenarnya
basicku adalah pengusaha karena kegiatan
eskul sewaktu sekolah adalah tataboga terlebih saya adalah ketuanya mengurus
segala keperluan dan kegiatan masak memasak/tataboga ketika berlangsung di
setiap minggunya kami berlatih bersama koki anto membuat makanan atau kue yang
lezat seperti nasi goreng, sup jagung ala hotel,dadar gulung,ayam
kentuky,hamburger,pizza,salat buah dan banyak lagi pokoknya yang pasti
menggiurkan membuat kering tenggorakan mendengarnya.Apalagi ketika ada kegiatan
besar disekolah atau diluar sekolah eskul tataboga selalu hadir untuk
menjajakan makanan super lezat dan bergizi,bahkan ketika ada acara pondok saya
diserahkan sebagai ketua konsumsi baik Itu kegiatan formal atau non formal. aku
juga membuka usaha diasrama tepatnya dikamarku secara illegal dengan menjual
mie instan karena saya melihat ini adalah peluang usaha yang besar dan saya
juga pelopor pengusaha lalu di ikuti teman-temanku yang lain ikut menjual juga
secara illegal hehehe karena kalau ketahuan pasti akan dimarahi ustad .
Sejak
peristiwa itu aku mengubur impianku menjadi pengusaha,ketika ada pendaftaran ke
mesir aku begitu kagum atas kisah disampaikan panitia sosialisasi seleksi Al
–Azhar yang datang kesekolahku dan aku begitu tertarik untuk mendaftarkan
diriku meski dibilang aku bukan lah anak yang cerdas apalagi dalam studi bahasa
Arab tapi aku tetap yakin dan bismillah dengan persyaratan tes harus hapal
Al-Qur-an minimal 2 juz serta ujian muhadasah(percakapan)
dan sejarah islam.Dari sini lah aku mulai mengenal Al-Qur’an lebih dalam dan
lebih dekat lagi dalam berinteraksi dengannya sehari hariku aku mulai belajar
bahasa arab secara autodidak/sendiri dan menghafal juz Amma atau juz 30 yang
sebelumnya saya sudah menghafalnya tapi aku dilupakan hafalanku karena kegiatan
yang padat saat itu jadi sistem mengahafalku dulu adalah hafal buang.tapi
syukur Alhamdulillah aku dapat menghapalkannya kembali meski masih tersangkut
sangkut tapi aku sangat bahagia dapat menyelesaikannya lalu aku melanjutkannya
ke juz 1 disinilah perjuangan yang sebenarnya menghafal karena sebelum hanya
mendaras jadi tidak banyak kesulitan,tapi di juz 1 ini banyak kendala mulai
dari kemiripan ayat ayat dan tajwidku masih banyak yang perlu diperbaiki,
sampai hari ujian aku hanya dapat menghafal setengahnya saja dengan hafalan
yang tidak lancer tapi aku tetap yakin malamnya aku bangun shalat tahajjud dan
memohon kepada Allah agar diberi kemudahan ujian nanti.
Pagi
itu aku bersama ustad Saipul beliau adalah guru bahasa Arabku,beliau mengantar
ku ketempat ujian sepanjang perjalanan aku hanya membuka mushaf untuk
mengulangi hafalan yang belum lancar dan aku juga mengirim sms kepada mama dan
bapakku meminta doa nya kepada mereka semoga diberikan kemudahan dalam ujian
nanti dan balasan pun datang yang menjadikan diriku lebih percaya diri lagi
karena aku tahu setiap perkataan kepada anaknya adalah doa yang mustajab.ketika
sampai ditempat ujian aku menyalami guruku dan memohon doanya semoga aku
diberikan kemudahan karena doanya sama seperti orang tuaku karena mereka adalah
orang tua keduaku yang menjagaku selama dipondok.Selama diruang ujian aku hanya
dapat tersenyum melihat mereka yang sangat antusias mengikuti tes ini dan aku
juga bahagia bisa berkumpul dengan orang orang hebat,aku hanya bisa berkata
dalam hati’’alhamdulillah bisa berkumpul dengan orang orang yang hebat’’.Ketika
acara dimulai akupun tetap tersenyum dan oktimis bahwa aku bisa melangkah
bersama mereka,sebelum tes dimulai panitia meyakinkan kami semua para peserta
bahwa apa yang terjadi selanjutnya tidak ada yang namanya penyesalan bagi itu
yang lulus ataupun tidak ini merupakan sebuah proses untuk merajut mimpi
setinggi tingginya dan bagi yang lulus nanti berhak lanjut ke tes 2,para panita
juga menjelaskan bahwa mesir adalah perguruan tinggi islam pertama yang
bertahan hingga sekarang hingga sekarang dan terkenal dengan julukan pintunya
ilmu karena para syaikh dunia berkumpul disana dalam mengkaji ilmu agama taupun
umum lalu panitia mulai membagi 2 tahap pengetesan,tes pertama adalah ujian
tulis dan ujian kedua adalah ujian lisan.tes pertama ujian tulis dengan 50 soal
pilihan ganda yang terbagi dalam bab pembahasan seperti Tanya jawab muhaddasah,agama,nahwu-shorof,,dan
imla’(mengarang).
Kami pun ditempatkan secara
sendiri agak berjauhan dengan peserta lain supaya tidak ada namanya
kecurangan,sebelum ujian aku pun melihat sekelilingku dengan tersenyum
tampaknya mereka orang yang berilmu.lalu para petugas pun membagikan soal serta
lembar jawaban.sebelum aku mengerjakan aku membaca terlebih
dahulu”radiytullabillahirabbah wabil islami diyna wabi muhammadin nabiyya
warasuula,rabbizidni ‘ilman war zuqni pahman aamiin yaa Rabbal’alamin’’semoga
Allah memudahkan langkahku dalam mengerjakan soal ini,lalu akupun membalikkan
soalnya dan mengerjakan dengan awal yang mudah tanpa ada hambatan ketika sampai
disoal pertengahan aku mulai bingung tapi aku tetap mencoba tenang untuk tidak
terbawa emosi lalu aku pun meloncat kesoal lain dan kesoal lain lagi karena
ketidak tahuanku akan jawaban sampai disoal terakhir imla’ mengarang ada 3
pilihan judul lalu aku memilih judul ‘’islam rahmatan lil’alamin’’ karena
menurut ku ini adalah judul yang mudah dibuat karangannya dengan 50 kosa kata
dan syukur Alhamdulillah aku dapat menyelesaikannya sekarang tugas terakhirku
menyelesaikan soal soal yang belum terjawab dengan jurus yang mana kupilih
dengan membaca basmallah jadinya modelnya seperti ini
bis(a)mil(b)la(c)hir(d)rah(e)ma(a)nir(b)ra(c)him(d).tapi terkadang aku juga mengubah dengan bacaan hamdalah atau
yang lainnya supaya berkah gitu supaya
gak meleset jawabannya dengan kalimat thoyyibah.dan akhirnya selesai juga
dengan keringat yang membasahi tubuhku keringat dingin berkumpul dengan orang
hebat yang notabenenya aku tak pandai bahasa arab. Dan aku pun keluar ruangan
menunggu instruksi selanjutnya
bersambung
Komentar
Posting Komentar