cerpen :melawan takdir dalam semangat mudaku
Bismillahirrahmanirrahim
melawan takdir dalam semangat
mudaku
aku bukanlah anak yang seberuntung
kalian yang hidup dalam kemegahan terlebih lagi serba kemudahan apa yang kau
ingin kan kau dapatkan karena perekonomian orang tua begitu menjanjikan sedangkan diriku tidak
seperti itu,aku harus bersabar dan tabah atas kehidupanku,terkadang apa yang ku
inginkan harus ku kubur dalam dalam serta menahan sedih yang tertahankan
bagaimana tidak,melihat anak anak yang lain memperoleh mainan baru dari orang tuanya,aku
hanya dapat melihat mereka tersenyum tertawa lebar memainkan mainan yang baru
didapatnya,hatiku sakit tak tertahankan karena aku juga ingin seperti mereka
mempunyai mainan baru.Seandainya kau membayangkan menjadi seperti diriku
mungkin kalian tidak akan sanggup menanggung bebanku.
Aku tahu dan sadar bahwa orang
tuaku hanyalah seorang buruh tani yang berpenghasilan tidak begitu menjanjikan
itupun kalau hasil panen berhasil tidak diserang oleh hama belerang jadi tidak
semua apa yang ku ingin terwujud apalagi saat itu aku menginjak di bangku
madrasah tingkat akhir,ibuku berkata’’nak ibu tidak bisa lagi membiayai mu
setelah lulus madrasah karena tidak ada biaya lagi’’.mendengarnya saat itu
hatiku berkecamuk tak karuan dan kusadari betul aku bukan lah anak yang
pintar,waktu madrasah kelas 4 saja aku belum bisa membaca,aku juga heran kenapa
kok anak anak sudah pintar membaca,terkadang aku harus dihukum dibawah meja
lalu mengangkatnya bersama teman teman lain juga yang tidak bisa membaca juga.
Ketika dinyatakan lulus madrasah
saat itu,aku berpikir untuk tetap melanjutkan pendidikan karena semangat jiwa
muda yang mulai tumbuh ingin mengubah hidupku,aku tidak boleh seperti ini terus
kalau begini terus akankah kehidupanku seperti ini tanpa ada perubahan yang berarti.
Lalu aku pergi ketempatnya haji
sudirman dia adalah seorang pengusaha ayam dan dia juga mempunyai hubungan
keluarga denganku.Ketika aku mendatanginya,ia melihatku’’ada apa doang(nama
kecilku)?
Aku menjawabnya’’aku mau kerja karena mamaku tidak ada uang kasih lanjut aku
sekolah tapi aku mau tetap sekolah’’ lalu beliau menjawabnya’’ ya sudah isi air
minum ayam dikandang belakang rumah sekarang’’.
Semenjak itu aku mulai bekerja
setelah tamat dari madrasah untuk membiayai sekolah ku sendiri.Ini bukan perkara
yang muda bagiku tergolong aku masih
kanak-kanak saat itu
Aku
harus memberi air minum ayam yang ribuan ekor saat itu, tapi semangat dalam
menuntut ilmu mengalahkan rasa letih yang tak terhingga apalagi semua pekerjaan
yang diperintah harus kusanggupi jika tidak,aku tidak mendapatkan bayaran.
Suatu ketika aji menyuruhku
memasang atap kandang dari pelepah daun pinang,Aku bepikir bagaimana cara
pasangnya padahal aku tak tahu cara memasangnya,akhirnya aku menggambar Kandang
dari berbagai sisi meski gambaranku seperti coretan yang tak berbentuk tapi
syukur Alhamdulillah semua bisa teratasi meski ketika memasangnya aku begitu
merinding menaiki tangga terlebih ukuran daun pelepah pinang lebih besar
dariku.
Lambat laun aku mulai terbiasa
dengan pekerjaan ku yang sudah beberapa bulan demi membiayai sekolahku di MTs
DDI Tani aman pada waktu itu sekolah masuk pada sore hari jadi aku bekerja
diwaktu pagi ba’da shubuh aku sudah bersiap siap untuk menunaikan kewajibanku
memberi minum dan makan ayam yang tidak sedikit jumlahnya kira-kira 500 ekor
sebuah jumlah yang fantastis bagi ku saat itu terlebih aku baru duduk dikelas 1
bangku MTs hingga suatu saat aji sudirman memanggilku dan berkata’’ doang
istirahat dulu soalnya ayam ayam sering sakit” aku hanya berkata’’iya
ji’’akhirnya aku kembali pulang ke rumah dengan pikiran yang campur aduk dalam
pikiranku apa yang harus ku bayarkan sekolah kalau tidak bekerja akhirnya aku
memutar otak dengan mendatangi sepupu dua kaliku yang sudah menjadi pengusaha
muda pada waktu itu menjual ayam lalu aku ditugaskan untuk mengurusi ayam di
kadang yang jumlahnya lebih fantastis dari sebelumnya dan untuk menambah uang
jajanku juga akhirnya aku ikut cabut ayam jam dari 4 shubuh sampai jam 6 pagi
dikandang ayam bersama para ibu ibu yang tak lain para keluarga ku juga bisa
dibilang hanya aku lah yan anak anak pada waktu itu terlihat pada raut wajah
mereka yang tak tega aku tahu itu tapi demi pendidikanku aku rela melakukan
apapun itulah prinsipku pada waktu itu tanpa memikikan apapun meski anak anak
seusiaku sedang bermain aku malah bekerja di kandang terkadang aku tak sempat
merasakan nikmatnya bermain diwaktu kecil karena rata rata waktuku kuhabiskan
dalam bekerja.
Inilah hidupku penuh dengan
keterbatasan tapi kutetap mensyukurinya terlebih orang tua yang masih berada
disisiku yang selalu memotivasi ku meski dalam kehidupan berkekucupan ia juga
tetap mengajarkanku yang namanya beribadah kepada Allah selalu mengingatkanku
untuk shalat fardhu lima waktu meski terkadang aku lupa untuk shalat karena
kelelahan tapi aku selalu berusaha untuk melaksanakannya.
Hari-hari kulalui seperti biasanya
melakukan kegiatan rutinitas wajib jika tidak pasti akan kena omel dari bosku.
Komentar
Posting Komentar